ArsiP

4.26.2011

Tersenyumlah, diatas tawaku!

4.26.2011
0 komentar
Tegal,
Tuesday, April 26th, 2011


..dan yang hal yang paling melekat dalam ingatanku adalah masa. Masa dimana kita saling mendekatkan diri. Mengenalkan kamu dan aku satu sama lain. Dan kala itu, pertengahan bulan pembuka tahun. Tepat ketika berkurangnya waktumu bernafas dimuka bumi. Saat itu kita berjanji temu di rumahku.  Berpuluh-puluh kilometer jauhnya dari tempatmu biasa berada. Dan yang sama sekali tak kusangka adalah, sabtu itu untuk pertama kalinya ku pandang wajah dengan serentetan kerut di keningmu. Dengan wajah layu, namun sumringah, mencuatkan perasaan tak sabar bertatap wajah denganku. Wajah yang suaranya hampir setiap hari menyapamu. Wajah yang kalimat singkatnya memenuhi layar ponsel-mu. Wajah yang memiliki tawa leher yang membuatmu merasa di remehkan.

Masih ingat pula, ketika seorang sahabatku tiba-tiba memberi kabar via sms kemudian telephone di pagi hari menjelang kedatanganmu, ia bercerita bahwa ia mendapatimu duduk manis di kursi becak yang dikayuh oleh seorang pria tua dengan kulit yang terbakar panas matahari disekitar tempat tinggal rumahnya. Waktu itu wajahmu terlihat melas, efek dari rasa cemas yang di timpa lelah dan pancaran panas mentari pagi, katanya. Ah, tapi aku justru tertawa terbahak-bahak menerima pemberitahuannya. Modal nekat.

Ku bayangkan wajah melasmu, tetapi ketika ku teriaki kamu dengan kalimat "maling-maling..." kebingungan di wajahmu terlihat lebih jelas. Bak seorang tamu disambut gonggongan anjing dari balik gerbang, kau langkahkan kakimu mundur beberapa langkah ke belakang. Lucu.

Dengan perasaan antara sombong dan blo'on, ketika ku dapati kau membayar upah si pengayuh becak dengan selembar kertas warna biru bergambar sosok pahlawan nasional dari Bali. TIDAK. Tidak terima, ongkos itu terlalu mahal sayang untuk kayuhan becak kurang lebih 7 kilometer dari terminal ke rumahku. Masih ditambah sok kebaikanmu menyuruhku memberi seteguk minuman penghilang dahaganya. Hemm, pantas si tukang becak itu melongo dan ragu-ragu meninggalkan rumah ku setelah kamu meberinya upah. Jelaslah, dia bingung, "kenapa ni orang gak minta kembalian?" Kalopun kamu minta, pasti dia jawab belum ada kembalian karena baru dapet pelanggan pertama! Dan jawaban paling menjengkelkan darimu setelah ditegur adalah "memang aku udah niat ngasih segitu buat tukang becaknya", iiikh..

Kemudian sabtu malam yang membuatmu meninggalkanku di tengah terminal, akhir hari setelah lebih dari 12 jam kita bersama, ada satu kecupan hangat mendarat di punggung tangan kananmu. Ada sisa wangi tubuhmu yang tertinggal darimu, ada kerinduan untuk di belai mesra oleh-mu.
 
Dari situ, ada sebongkah rasa yang makin mendekatkan kita. Pun kala itu, kita semakin candu berkomunikasi. Saling bertukar cerita tanpa tema, saling mendengarkan dan saling cela, sampai sekarang. Dan ketika kau dapati aku dirundung rasa duka, tak sesungging senyumpun kau lempar padaku. Karna dikala ku berduka, ku yakin pada tangis yang akan menyapa hidupmu. Sebaliknya, ku dapati tawa di wajah dan hatimumu ketika kau memanndangku tersenyum manis karenamu. :)

Tetaplah mencintaiku, sampai akhir hayatku. :*

read more

4.21.2011

Dan Kami bersama (!)

4.21.2011
0 komentar
Kliwon Friday.
April 21st, 2011 \ Kartini's Day.

Well, 10 bulan sudah saya tidak update blog! --saya memang bukan blogger yang baik-- Begitu banyaknya kejadian yang saya tidak tulis, dan arsipkan di blog ini. *hiks.

Biar gitu, saya masih suka nulis.. Menulis adalah kegiatan yang membahagiakan bagi saya. *lebay.. Saking banyaknya kejadian hampir setahun belakangan ini, saya jadi bingung mau cerita dari mana dulu. :))

hemm, hal yang berubah dalam hidup saya akhir2 ini adalah..
  1. Saya abis ngulang tahun February dan Maret kemaren, bareng pacar baru saya :">
  2. Lalu kemana pacar lama saya? Sudah putus, dan cerita yang menyebabkan kami putus, sangatlah lucu. hahaha. Ada cowok yang ngerasa dengan cara saya dijelek-jelekin depan pacar dan atau orang yang naksir saya, saya bisa jatuh gitu aja di pelukannya. Ow, tidak bisa! :))
  3. dan.. Apalagi yaa? Semangat membara saya adalah segera menggenggam GalMin, punya rumah, di lamar pacar, lalu nikah. Hemm, tapi semua gak semudah nulisin apa yang sama mau di blog ini kan?? Semoga Allah mengijabah doa baik saya. Amiin :* 
 Dan saya, sebenernya niat gak niat siy update blog. Yang jelas, doain saya yaa biar cepet punya leppy, wkwkwk biar bisa nulis Novel, atau biografi tentang saya dan calon suami. :* Nanti pasti di share via blog deh. *apa coba..

Amiiin
*tadahin dua tangan, usap ke wajah cantik :)

read more

8.06.2010

Metro-seksual dan Sepatu Aladin

8.06.2010
1 komentar
Siang ini, saya dibuat terheran-heran dengan cowok kantoran yang bekerja di gedung-gedung yang kokoh berdiri di sepanjang jalan Sudirman. Hari ini saya memang meluangkan waktu untuk makan siang di warung tegal langganan saya yang ada di belakang gedung kantor. Biasanya saya memang malas ke luar gedung dan lebih memilih makan di kantin gedung basement parkiran kantor. Lebih tepat lagi saya sengaja datang ke warteg tersebut untuk melengkapi hasrat lidah saya yang ingin menyantap cumi bumbu kuning favorit. Ternyata sampai disana, mereka sedang tidak memasak menu tersebut.

Yang saya temui justru pria-pria metroseksual gaya perlente. Badan pendek bogel, yang tinggi badannya bahkan tak lebih tinggi dibanding saya yang hanya 165cm. Ditambah wajah penuh jambang atau lebih dikenal wajah penuh godeg menghiasi wajah bagian samping. Apalagi kemeja corak warna-warni hitam merah disetrika klimis masih lengkap menggunakan dasi dengan parfum yang kata orang adalah aroma maskulin. Duuuh, gaya sok keren ngisep sambil Djarum Black dan kaki pake sepatu pantopel gaya aladin yang disemir kilap kok makannya di warteg?

Itu baru sedikit dari penampilan yang ingin saya kritik. Lebih menggelitik lagi, bila saya bertemu dengan pria-pria yang katanya eksekutif muda. Mungkin karena title-nya eksekutif muda kali yaa, makanya style-nya juga ikut-ikutan gaya anak muda. Pernah lihat pria kantoran yang pakai celana pensil cowok yang biasa dipakai Pasha Ungu waktu manggung? Itu lho, celana yang biasa dipadukan dengan kemeja dan sabuk berkepala besar dan kalau diajak jalan celananya hampir mlorot sampai yang terlihat atasannya cuma boxer? Ya seperti itu  gaya eksekutif muda jaman sekarang. Aneh.

Celana sudah bukan lagi celana bahan, kemeja pun tak lagi memakai kemeja berwarna kalem. Yang dipakai justru kemeja warna-warni kesukaan mereka sendiri. Apalagi jika dilengkapi dengan sepatu pantofel aladin dan tangan dipakaikan gelang karet warna-warni. Belum lagi gaya rambutmohawk yang kilap dipoles minyak rambut, pinggirnya di atas kuping juga tak lupa di kerok.Aduuuh, macam kepala yang sedang masuk angin saja.

Yang saya herankan lagi, apa mereka yang berpenampilan demikian tidak risih ketika bertemu dengan klien? Paling tidak rekan HRD lah, masa sih tidak ada yang menegur penampilan mereka? Hak setiap orang memang untuk berpenampilan. Tapi bukankah lebih baik lagi bila dalam berpenampilan disesuaikan dengan situasi dan kondisi tempat bekerja. Jika bekerja di tempat fashion mungkin wajar, tetapi akan jadi aneh rasanya bila sebagai pegawai kantoran berpenampilan demikian. Kembali ke masing-masing individu-nya mungkin. Tapi bagi saya yang memang anti cowok begitu, metroseksual pake sepatu aladin Is Big NO! Haduuh, jijay koboy kucay marucay capcay somay deh…


read more

8.05.2010

Tahu Aci atau Tahu Pletok

8.05.2010
2 komentar

Jika Anda merupakan orang yang pernah tinggal lama atau berkunjung ke Tegal, mendengar nama tahu aci dan tahu pletok mungkin sudah bukan hal yang asing lagi. Jajanan yang merupakan khas dari kota slawi tersebut, memang tak bisa dipisahkan. Terbukti dari banyaknya penjual jajanan tersebut disepanjang jalan utama Tegal-Slawi. 

Tahu mungkin sudah lebih dikenal oleh masyarakat sebagai sebagai sahabat dari bahan pangan tempe. Makanan yang berasal dari negeri tirai bambu ini memang sudah populer di Indonesia. Untuk itu tak heran bila dari bahan dasar tahu, bisa dijadikan makanan lain yang beraneka ragam.

Dan di Tegal yang terkenal dengan warung nasi sederhana Warteg, tahu sudah dijadikan jajanan favorite yang khas. Seperti pada judul di atas, tahu aci atau tahu pletok. Meskipun keduanya berasal dari bahan dan bumbu yang sama, yang membedakan adalah bentuk dan rasa yang ditawarkan oleh ke duanya. Lalu, apa sebenarnya yang menjadikan kedua makanan berbahan dasar kedelai itu berbeda? Mari kita bahas keduanya secara singkat..

Tahu Aci
Tahu aci merupakan jajanan yang terbuat dari tahu, seperti tahu sutera yang berwarna kuning. Ibu rumah tangga mungkin lebih mengenal dengan sebutan tahu kuning. Untuk membuat tahu aci ini, tahu kuning yang biasanya berbentuk kotak kita belah diagonal menjadi bentuk segitiga. Kemudian, bagian belahan tersebut kita tutup dengan adonan aci.
Adonan aci itu sendiri adalah gabungan dari tepung kanji atau tepung aci yang diberi bumbu kuning dari kunyit dan bahan lain serta yang paling penting adalah irisan daun bawang kucai. Diaduk menjadi satu sampai adonan tersebut kalis tetapi tidak lembek atau encer. Setelah itu, digoreng dalam minyak yang panas. Setelah berwarna kuning ke emasan, angkat dan disajikan bersama dengan cabai rawit hijau yang akan menggugah selera. Dijamin, rasa gurih serta rasa kenyal dari adonan aci akan membuat Anda bersemangat menyantapnya. Satu dua kali mencicipi, bisa habis satu piring. 

Tahu Pletok
Jika tahu pletok itu sama dengan tahu aci, lalu dimana letak perbedaannya? Disinilah letak perbedaannya. Jika tahu aci terbuat dari tahu kuning, maka tahu pletok terbuat dari tahu kulit yang berwarna coklat. Biasanya tahu coklat ini berbentuk segitiga. Untuk membuat tahu pletok, tahu kulit tersebut dibelah menjadi dua tetapi tidak sampai terbelah. Dibiarkan menjadi bentuk kotak persegi panjang. Kemudian, diatasnya di olesi dengan adonan aci kemudian digoreng sampai garing dan renyah. Inilah yang membedakannya dengan tahu aci. Jika adonan tahu aci itu kenyal, maka untuk tahu pletok justru dibiarkan garing dan gurih. Keduanya sama-sama nikmat disantap di siang hari yang terik, atau pada malam hari dan saat hari mendung atau setelah hujan. Hm.. disinggit dengan cabe rawit, dan ditemani secangkir teh poci rasanya seolah dunia milik sendiri.

Untuk itu terlepas dari perbedaan yang ada ditengah persamaan, kembali pada selera masing-masing. :)

also publish : kompasiana

read more
 

Pengikut